Kalau lo mau kenal sama band slamming death metal yang fresh dari Ciamis, lo harus dengerin Disvigured! Iya, Disvigured! Band ini baru aja rilis single perdana mereka yang judulnya “Dead March For Concupiscence” pada Jumat, 1 Agustus lalu. Gak main-main, Disvigured hadir dengan energi yang luar biasa, dengan latar belakang musik yang beragam dari setiap personelnya.
Disvigured diisi oleh Raisa Alifya di vokal, Albert Setyadi dan Hendi Fauzi di gitar, Sofyan Romjani di bas, dan Alvin Vikrul di drum. Nah, yang menarik dari Disvigured adalah setiap personel punya latar belakang musik yang berbeda-beda; ada hardcore, deathcore, sampai metalcore. Bayangin aja, ketika Hendi yang metalcore ketemu dengan Albert yang lebih ke deathcore, dan Alvin yang hardcore, pasti ada banyak dinamika menarik yang bikin musik Disvigured jadi unik. Sofyan bilang, “Ini tantangan tersendiri karena background musik kami beda-beda!”
Proses penggarapan single “Dead March For Concupiscence” juga penuh cerita seru. Salah satu momen yang paling diingat oleh Disvigured adalah saat mereka harus ngeluarin waktu khusus untuk latihan di Bandung. Kenapa? Karena buat nyamakan energi dan, pastinya, supaya bisa rekaman di studio yang mereka anggap ‘ajaib’. Disvigured merasa, akhirnya bisa bikin rekaman yang proper itu jadi pengalaman yang luar biasa.
Setiap personel Disvigured punya alasan sendiri untuk tetap setia di dunia musik. Sofyan bilang, “Musik bagi saya adalah terapi. Setelah penat kerja dari Senin sampai Jumat, musik jadi pelarian akhir pekan.” Jadi lo bisa bayangin betapa pentingnya Disvigured bagi mereka, bukan cuma sekadar hobi, tapi juga sebagai sarana untuk mengekspresikan diri.
Ngomong-ngomong soal ekosistem musik di Ciamis, Disvigured juga optimis dengan perkembangan musik di kampung halaman mereka. Mereka menyoroti inisiatif seperti Sweetcity Movement dan Heartless Collective yang rutin ngadain gigs. Ada juga acara tahunan kayak Malam Pentas Seni, Amplify Escape, dan Metalgear Showcase. Hendi berharap, “Semoga pergerakan musik di Ciamis bisa sama kayak kota-kota besar!”
Sementara itu, Albert juga berharap regenerasi musik terus berjalan lewat event-event yang konsisten. Dan Sofyan pengen lebih banyak aktivitas yang bisa bikin ekosistem kreatif di Ciamis, kayak klinik gitar, bedah musik, atau workshop pembuatan lagu. Jadi, Disvigured bukan cuma sekadar band, tapi juga bagian dari gerakan untuk menghidupkan musik di Ciamis.
Single “Dead March For Concupiscence” dari Disvigured bukan cuma pembuka jalan untuk perjalanan mereka, tapi juga jadi tanda bahwa musik ekstrem di Ciamis masih terus hidup dan siap membakar semangat lebih besar lagi. Jadi, lo yang penasaran, jangan sampai ketinggalan buat dengerin Disvigured! Ini band yang bakal bikin lo terpukau dengan kekuatan musik mereka!
